Sore itu keadaan kampung seperti biasanya. Masih banyak
anak anak yang bermain dengan ria tidak ada sedikitpun raut sedih dari pancaran
wajah mereka semua. Seakan melepas penat dari apa yang mereka lakukan selama
seharian dan seperti biasanya pula hanya Pak Samudra yang terlihat sedih. Dalam
keadaan senja seorang anak yang bermain mencoba untuk menghampiri pak samudra.
Anak itu bernama Surya, Surya Cencana lah nama lengkapnya. Dalam keadaan ragu
Surya memberanikan diri menghampiri Pak Samudra dengan terbatah batah Surya
bertanya
“Pak...Pak Samudra
kenapa terlihat sedih?’’ tanya Surya dengan kepolosannya.
Pak Samudra melihat anak itu, tanpa memberikan jawaban
dia hanya tersenyum kepada Surya dan berkata..
“Pulanglah nak,
senja sudah tiba dengan tangisan bisunya.”
Dalam keadaan hening Surya bergegas meninggalkan Pak
Samudra dia lari, lari begitu cepat kearah rumah nya dengan diringi 9
pertanyaan besar dipikirannya.
Malam
itu tidak seperti biasanya untuk Surya, Dia masih memikirkan maksud dari perkataan
Pak Samudra. Ini malam yang sangat aneh dan kegelisahanpun kunjung pergi.
“Ya Tuhan
kemana aku harus pergi dan bersembunyi dari pertanyaan ini? Kenapa harus seperti
ini? Umur ku belum juga dewasa kenpa harus terpikirkan apa yang tidak aku pikir
kan?” ujur Surya dalam hati.
Perasaan ini amat lama dirasakan, Seperti karang yang
perlahan menghilang karena terjangan ombak. Dalam keadaan gelisah Surya hanya
bisa termenung di depan jendela kamarnya sekedar melihat cahaya rembulan.
Nampak dari kejauhan terlihat mentigi dengan mentilai dibalik dedaunan nya. Mentilai
cantik dengan warna kucing itu pun kini terlihat seperti merik. Dalam keadaan
seperti ini tak ada yang bisa dilakukan bocah berumur 9 tahun. Ingin melakukan
paheman pun dirasa tidak mungkin karena orang orang pasti tidak akan percaya
dengan apa yang dia alami. Surya hanya
bisa terdiam dan tampa sepengetahuannya dia tertidur seperti habis menghisap
pakpung.
Pagi
yang ditunggu akhirnya tiba, dalam keadaan paranoia Surya bersyukur bisa
melewati malam terberatnya. Ya malam terberat terlewati kini dia menghadapi
pagi yang aneh, pagi yang hangat tidak terasa dingin.
“Tuhan
sesungguhnya engkau maha paramarta! Ada apa Tuhan? Kenapa perasaan aneh ini
datang kembali? Belum ada 2 menit aku menikmati pagi mu sudah kau buat aku
seperti ini lagi. Adakah aku punya salah kepadamu? Ampuni aku, engkau paramarta
sungguh maha paramarta.” ujarnya dalam hati sambil meremas rambut dengan ke dua
tangannya.
Terlarut dalam keadaan tak menentu ibu pun menegurnya..
“Nak, kamu
kenapa? Kamu tidak terlihat seperti biasanya.” Tanya Ibu sambil menghampiri dan
memeluk anaknya.
Dalam
pelukan Ibu Surya berkata “Aku merasakan hal aneh bu, pagi ini tidak seperti
biasanya.”
“Itu hanya
perasaan kamu saja, lekaslah mandi kamu harus sekolah.” ujar Ibu sambil
melepaskan pelukannya
Sambil berdiri
“Iya bu, terima kasih atas pelukannya.”
Dengan pertanyaan besar surya pun menjalani hari itu
“Bu, surya
berangkat sekolah dulu ya.” ujar surya sambil mencium tangan Ibu
Sambil mengelus
rambut putranya “Ya nak, hati hati dijalan.”
Sambil menatap mata Ibunya Surya
seperti merasakan tangisan tampa air mata. Disepanjang jalan dia hanya bisa
merasakan pertanyaan pertanyaan besar sang alam tanpa bisa menjawabnya. Dalam keadaan
ragu ia terus berjalan melewati panteon. Surya sempat berhenti sejenak sekedar
melihat nenek tua yang sedang berdoa dengan pedendang yang dilingkarkan di kedua
bahunya. Tidak lama kemudian Surya kembali berjalan dan tak jauh dari panteon
kini dia melihat pentopan yang masih ditutup rapat. Sesampai nya disekolah bel
tanda masuk kelas langsung berbunyi Surya langsung berbegas menuju kelas nya,
kelas 4b dan langsung mengambil tempat duduk dipojok kelas. Pagi itu terasa
semakin aneh saat merah putih tidak ada di tempatnya, tempat yang paling tinggi
dengan tiang bambu. Detik demi detik terlewati begitu lama, yang ada dipikirannya
hanya ingim bertemu dengan Pak Samudra. Pada saat itu keadaan kelas seperti
biasa teman teman nampak senang dengan suasana kelas. Pak Syukur mengajar
pelajar Bahasa Indonesia dengan suasana yang menyenangkan. Surya tetap terlihat
bingung. Ia linglung dengan keadaan nya. Sampai bel berbunyi kembali pertanda
jam penggantian pelajaran ia tetap diam. Suasana kelas semakin ria pasalnya
pelajaran selanjutnya ialah olah raga yang diajarkan oleh Pak Shukron. Dengan cepat
teman temannya mengganti pakain mereka dengan pakaian olah raga. Menyadari hal
itu Surya bergegas berdiri dan langsung menghampiri Pak Shukron yang berada
didepan kelas untuk meminta izin agar tidak mengikuti pelajar dengan alasan
sakit. Pak Shukron pun mengiakan permintaanrya. Setelah mendapatkan jawaban Surya
kembali menuju tempat duduknya. Sampai bel istirahat berbunyipun dia tetap pada
tempatnya. Melihat keadaan Surya yang tidak seperti biasanya teman perempuannya
yang bernama Felicia Zee Noviana menegurnya
“Surya kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Zee
sambil mengambil tempat duduk disamping Surya.
Surya terdiam sejenak “Aku sehat saja kok.
Ada apa Zee?” menatap Zee
Zee dengan raut wajah tersipu malu “Tapi
kamu tidak terlihat seperti biasanya Sur.”
“Ah.. itu hanya perasaan kamu saja.” Surya sambil
tersenyum.
Untuk waktu beberapa lama
mereka berdua diam sejenak dengan iringan suara renyai renyai, suara yang khas,
dengan tetes demi tetes penuh dengan irama. Sekian lama berdiam Surya berusaha
mencairkan suasana
Surya berdiri dan memegang tangan Zee “Mari
kita makan dikantin.”
Tanpa menjawab Zee langsung mengiyakan ajakan
Surya dengan berdiri dan senyuman manis nya.
Sesampainya dikantin Surya
mengantarkan Zee duduk di kursi dan meja yang sudah terlihat rengkah. Tidak lama
kemudian Surya kembali datang dengan nasi goreng di kedua tangan nya. Zee terlihat
lahap menyantap makanyanya sedangankan Surya hanya bisa melamun dengan sesekali
menyuap makanan yang ada dihadapannya.
Bel tanda masuk kelas sudah
berbunyi kembali mereka berdua langsung menuju kelas. Pelajaran selanjutnya
adalah Agama Islam, Bu Fatimah yang mengajar sudah masuk kelas dan Surya pun
langsung menuju keluar kelas. Ya Surya tidak mengikuti pelajaran Agama karena
ia memang bukan Beragam Islam. Dia dilahirkan dari keluarga yang tidak
mempunyai Agama, Semua keluarganya Atheist akan tetapi hanya Surya saja yang
memperyai keberadaan Tuhan dan Dewa. Diluar kelas dia hanya duduk sambil
memandangi lapangan sekolah dengan tatapan kosong. Sungguh aneh hari yang
dialami olehnya. Dalam keadaan yang masih linglung dia menuju perpustakaan dan
mengambil buku kumpulan cerpen berjudul Manusia Kamar karya Seno Gumira
Ajidarma. Dalam keadaan membaca dia terlihat lebih tenang seperti melupakan apa
yang sedang dia alami. Ketika sedang asik membaca bel pertanda pergantian
pelajaran berbunyi kembali. Dengan perasaan sebal ia meninggalkan perpustakaan.
Sesampainya dikelas Pak Dido yang mengajar PPKN sudah masuk. Surya langsung
menuju bangkunya. Pelajaran yang membosankan membuatnya ngantuk tanpa pikir
panjang dia tertidur lelap dengan posisi duduk dengan kepala berada diatas meja
dan kedua tangan menjadi alas. 40 menit kemudia bel berbunyi semua teman
temannya sudah meninggalkan kelas tanpa sadar dia masih tertidur. Untunglah temannya
Zee berbaik hati membangunkannya
“Sur...Sur...Surya ayo bangun, sudah bel
pulang Sur. Banguunnnn!!!!” menggoyangkan bahu Surya
Dalam kondisi setengah sadar “Iya iya.”
“Buruan bangun!” Zee sambil membentak
Dalam keadaan kaget “Iya zee, makasih ya.”
Tanpa menghiraukan keberadaan
Zee, Surya bergegas pulang dia lari, lari begitu cepat menuju rumahnya. Sedangkan
zee? Dia hanya bisa diam melihat tingkah aneh yang dilakukan temannya itu.
Siang itu menujukan jam 01:09. Panas terik sili
berganti. Sambil menunggu jam 04:00 dimana dia bermain bersama teman temannya Surya
hanya menonton televisi dangan kipas angin tepat didepan tubuhnya.
“Makan dulu nak, Ibu sudah masak makanan
kesukaan mu.” ujar Ibu
Menuju meja makan “Iya bu, Ini surya mau
makan, makasih bu atas masakannya.”
Tidak terasa waktu yang
ditunggu sudag tiba. Dalam keadaan cemas Surya berlari menuju tanah lapang
sambil berharap Pak Samudra tetap pada tempat biasanya. Sesampainya di lapangan
dalam keadaan letih surya berkata
“Syukurlah Pak Samudra ada ditempatnya.”
ujuranya dalam hati.
Sadar Surya sudah sampai
dilapang Pak Samudra menggubitnya, Dan tanpa pikir panjang Surya langsung
menghampiri.
“Selamat sore Pak.” menyalami Pak Samudra
Menyambut tangan Surya “Hei nak, Selamat
senja.”
Dalam keadaan ragu dan bingung
Surya duduk disamping Pak Samudra
“Ada apa nak? Kamu terlihat gelisah.” tersenyum menatap Surya.
“Ya pak, sejak semalam perasaan saya tidak
menentu. Saya merasa alam memberikan pertanyaanya.” mencoba tenang.
Sambil menungangkan teh “Alam menyayangi
kita semua. Tapi tidak semua dari kita tidak menyadari hal tersebut. Terlebih malah
ada yang merusaknya nak.”
Memberikan teh kepada Surya “Minumlah teh
ini, barangkali bisa meredakan rasa gelisah mu.”
Surya mengambil teh “Terima kasih Pak.”
Tanpa ragu Surya langsung bertanya “Apa yang
Bapak lakukan disini?”
“Saya hanya ingin menikmati senja.”
jawabnya sambil tersenyum.
Keadaan
bingung “Bagaimana caranya pak? Saya melihat matahari itu terbenam seperti
biasanya.”
“Pejamkanlah mata mu nak dan rasakan
pertanda merduh yang diberikan.” Pak Samudra menatap Surya
Tanpa pikir panjang Surya
melakukan apa yang disuruh Pak Samudra. Beberapa menit kemudian Surya
mengatakan
“Ini nikmat sekali pak. Saya merasakan apa
yang belum pernah saya rasakan.”
“Lalu apa yang kamu rasakan?” tanya Pak Samudra
“Perasaan yang amat sedih pak, ingin sekali
rasanya memeluk senja itu.” ungkapnya sambil menunduk dengan suara terbatah
batah
“Bukalah mata mu nak.”
Dengan membuka mata “Kenapa seperti ini pak? Lalu apa maksud
perkataan Bapak tempo hari?”
Pak Samudra dengan raut wajah sedih “Bersyukurlah
nak kamu bisa merasakan tanda alam. Alam ini sudah terlalu sering menangis tapi
tanpa pamrih alam selalu memberikan keindahan untuk manusia.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan pak?” Surya
semakin penasaran
“Tugas mu sekarang hanya belajar dan terus
belajar sampai kamu mati dan rawatlah alam mu ini. Jagalah alam ini, Lawanlah
mereka para kapitalis yang ingin mengahancurkan semuanya. Lawan!” Pak Samudra
dengan tegas
“Ya, saya berjanji akan hal itu pak. Terimakasih
atas segala hal pelajaran yang bapak berikan.” Surya percaya diri
Menyadiri waktu semakin sore Surya
pamit untuk segera pulang.
Keesokan harimya Surya lebih merasa tenang, tidak ada
lagi perasaan aneh atau gelisah yang menghampirinya. Malam yang dilewatipun
terasa lebih nyaman. Kini dia pun bersekolah seperti biasanya. Tak ada keraguan
untuk semua. Dia yakin semua akan berjalan baik, Ya berjalan dengan baik termaksud
pertemanannya dengan Zee. Ya, Felicia Zee Noviana gadis kecil nan cantik bagai
putri timur jawa.
Surya Kencana, putra senja yang kini bisa merasakan
semua hal pertanda yang diberikan alam dengan penuh harapan dia melakukannya. Ya
dengan harapan, Bukankah tidak ada yang bisa melarang? Bahkan para Dewa pun tidak
bisa melarang harapan manusia manapun dari jaman manapun atau dari abad
berapapun. Yakin semua bisa saja terjadi bahkan seorang raja bisa menjadi budak
dalam waktu satu detik.