Wednesday, 28 January 2015

Irama Kata

Saling tanya; dia tersipu.
Tertunduk, dagu yang terangkat perlahan.
Terlihat senyum tanpa ragu.
Bawa kalbu menembus tatapan.

Tanpa kata dia berbicara.
Terdengar perlahan, begitu manja.
Ku ingin mu, menyerupai ‘kita’.
Biar bersama dengan rasa.

Kita hanyut tak terbawa.
Tak terlihat tetap menantang.
Lagi, tunduk dengan mata.
Ku tak ingin dia hilang.

Terkecuali Dinda.
Semua sirna.
Tetap sama. Bermakna.
Hanya dia sandaran raga.

                                                                                               
                                                                                      Bandung, 23 Januari 2015.



                                                                                            Akbar Ridwan

Di Ujung Lensa

Hari makin riuh.
Pusat menjadi kabut; kabut penuh misteri.
Semua terjadi begitu cepat.
Mereka sibuk dengan segala kepentingan.
Hari – hari yang mulai sesak dengan sikut – sikut.
Akal melenyap seketika.

Senyap…senyap…senyap.
Dalang – dalang mulai bermunculan.
Acuh, banyak korban.
Mereka saling berbicara putih.
Biar aku yang hitam.

Siapa peduli katanya?
Kita terlihat acuh.
Bukan berarti tanpa tujuan.
Salah.
Bisa kita berbincang?

Coba bentangkan kain itu.
Lihat, mungkin daun berguguran.
Tak perlu musim, semua bisa jatuh.
Tak perlu Tuhan.
Katanya, mereka yang mengatur.


                                                                                    Bandung, 23 Januari 2015.


                                                                                           Akbar Ridwan

Saturday, 10 January 2015

Di Balik Cangkir

Harum bunga rasuki batin.
Merpati putih riuh berterbangan.
Ramai pasti sunyi.
Terlihat di balik kabut.
Samar – samar tembus ilalang.

Daun pintu terbelalak.
Membuka dua arah.
Membuka dua dunia.
Terhempas dari nyata.
Catatan temui titik.

Angin mulai berirama.
Hidup penuh dura.
Tubuh terbungkus durias.
Masihkah inheran?
Aku tetap aku.

Tak ada air yang mengiringi.
Bunga seakan punah.
Menghadaplah sendiri.
Mari manusia malang.
Senja segera tiba.


                                                                                             Semarang, 10 Januari 2015


                                                                                         Akbar Ridwan

Monday, 21 July 2014

Sayap

Malam; mendung tak berhujan.
Burung hantu tertawa lepas.
Panteon berterangan di pusat kota.
Tubuh ini lesu; tak bertulang.
Teman masih tidur tanpa mimpi.
Angin terus berhembus tanpa arah.
Bumi saya bukan bumi anda!
Kita semua berbeda, begitulah jalannya.

Di ujung jalan sudah menanti sebuah persimpangan.
Mungkinkah melewatinya dengan satu sayap?
Sayap – sayap rapuh, usang. Laknat.
Kuasa Tuhan selalu dipertanyakan.
Dia masih mengendalikan semua. Ya semuanya!

Malu rasanya datang ketika jatuh.
Semua suram; gelap tak bercahaya.
Gagal maka gagal. Tidak perlu pemanis!
Tidak ada tempat bersandar.

Rob, terimalah dialog ini.
Hanya engkau yang mampu menguatkan.

Friday, 18 July 2014

Wajah Manusia

      Memasuki abad duapuluh satu; dunia semakin terlihat panik. Manusia semakin dimanjakan oleh teknologi. Semua saling berlomba tanpa memperdulikan cara apa yang mereka pakai. Dan masih kah mereka membutuhkan Tuhan? Atau datang sekedar untuk mengadu saja? Manusia abad duapuluh satu; manusia manja.

          Perkenalkan, Saya Max Tan Lee umur enambelas tahun. Saya terbiasa dipanggil Tan atau Lee. Saya lahir dan tumbuh besar di pesisir pantai, daerah kecil yang bernama Iwon, Korea Utara. Saya tinggal bersama kakek sejak kecil.  Kakek saya bernama Multian Tan Lee, dia berusia enampuluh empat tahun. Saat ini saya bekerja sebagai nelayan. Sejak lulus sekolah dasar, pertualangan didalam pendidikan sekolah terhenti. Tidak jelas apa alasannya, mungkin karena masalah biaya. Entahlah. Walaupun begitu, saya masih bersyukur karena kakek selalu mengajarkan banyak hal; termaksud sejarah didalamnya. Kakek selalu bilang, kalau tidak ada satupun Negara yang berani dengan Korea Utara, termaksud Amerika Serikat; Negara yang selalu sibuk dengan kebohongannya.

          Pagi kali ini tidak begitu cerah. Dan sepertinya laut sedang tidak bersahabat juga. Saya urungankan niat untuk melaut. Disaat – saat inilah kakek selalu bercerita. Saya duduk persis didepan pintu. Sejenak, tubuh ini terdiam. Saya merasa ada yang aneh, seakan – akan telah terjadi peristiwa besar.   Tidak lama kemudian kakek datang menghampiri, tubuhnya terlihat segar setelah mandi.

“Selamat pagi lee. Kamu tidak melaut?” Tanya kakek.
“Tidak kek, laut sedang tidak bersahabat.” Jawab ku dengan santai.
“Alam selalu bersahabat dengan manusia lee, hanya saja sedikit manusia yang bisa merasakan itu.” Jawab kakek sambil tersenyum

Sejenak  saya terdiam, merenungankan apa yang kakek bilang tadi. Sepertinya benar, Alam selalu bersahabat dengan manusia. Inikah cerminan manusia abad duapuluh satu? Huh… membingungkan.

          Tanpa saya sadari kakek sudah duduk tepat disamping saya. Ditangannya terlihat buku Carried Away: A Selection of Stories, buku cerita pendek karya Alice Munro. Ketika suasana sunyi secepat kilat kakek bertanya.

“Lee, tau kamu siapa Alice Munro itu?”
“Aku tidak tau banyak tentang dia, yang aku tau dia penulis asal Kanada kek.” Jawab saya ragu.
“Ya kamu benar, dia memang penulis asal Kanada. Tapi bukan itu maksud kakek”
“Lalu apa makasud pertanyaan kakek?” Tanya saya bingung.
“Di usia yang sudah menginjak delapanpuluhan, dia masih saja mendapatkan penghargaan Nobel. Tentu itu karena dia menulis dengan hati, bukan dengan tangannya.” Jawab kakek dengan tenang.
“Jujur, Lee tidak mengerti maksud kakek. Maafkan.” Jawab saya dengan nada rendah
“Kamu akan mengerti, ketika kamu menulis lee. Menulis adalah pekerjaan untuk manusia. Kamu harus paham untuk itu.”

Saya masih bingung apa yang dimaksud kakek, mungkin karena saya hanya lulusan sekolah dasar, sedangkan kakek seorang terpelajar. Huh, sial benar nasib ini.

            Semua berakhir begitu saja, saya tinggalkan kakek di teras rumah untuk pergi ke pasar sekedar berbelanja bahan makanan. Keadaan dijalan seperti biasa, orang – orang sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Terpikirkan kah oleh mereka tentang alam? Atau mereka hanya memikirkan perut saja? Biarkan itu menjadi urusan tersendiri.

             Pada saat saya sampai rumah sekitar jam sebelas, kakek masih sibuk dengan buku Alice Munro nya. Terpikir untuk menugur tapi enggan rasanya untuk menggangu. Dalam hati saya hanya bisa mengeluh…

“Kakek kalau sudah baca lupa dengan semuanya, cucunya lewatpun rasanya dia tidak tau.”

Selesai menaru belanjaan didapur, saya bergegas menuju kamar. Tidak enak rasanya jika tidak melaut., Tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Sunyi.

           Tanpa sadar tubuh ini terlelap, tepat jam empat sore kakek membangunkan saya dan langsung meminta saya untuk lekas mandi. Sambil membangunkan dari tidur, terlihat kakek sedang menempelkan poster seorang laki – laki. Saya bergegas menuju kamar mandi, dikamar mandi terpikirkan poster laki – laki itu, saya merasa pernah melihat gambar dia disalah satu koran. Terbesit nama Noam Chomsky. Entahlah, saya ragu. Tapi apabila benar, untuk apa kakek memasang poster seorang professor linguistic yang pernah mendapatkan penghargaan Kyoto Prize. Ah… biar nanti saya tanya saja kepada kakek.

           Ketika sudah selesai mandi saya bergegas untuk menghampiri kakek dihalaman belakang rumah. Disana terlihat kakek sedang asik minum teh sambil mendengarkan kicauan burung peliharaannya. Dengan ragu saya duduk disamping kakek dan memulai percakapan.

“Kek, poster yang kakek tempelkan tadi itu Noam Chomsky bukan?” Tanya saya dalam keadaan ragu.
Kakek tersenyum
“Benar Lee, itu Noam Chomsky. Memang kenapa?” balik kakek bertanya.
Masih dalam keadaan ragu saya menjawab
“Untuk apa Kakek menempelkan gambar dia?”

Kakek tidak menjawab pertanyaan saya, dia malah asik dengan kicauan – kicauan burungnya. Tubuh ini menjadi linglung. Tak tau harus berbuat apa. Sadar akan keadaan yang seperti ini, kakek mulai berbicara.

“Lee, untuk menjadi terpelajar tidak harus duduk manis mendengarkan guru berbicara di depan kelas. Kamu cukup membaca dan membaca. Ya, kakek sadar apa yang kakek bicarakan memang terdengar naïf. Kamu juga harus tau, menjadi terpelajar itu sulit. Jika kamu ingin menjadi terpelajar, jadilah terpelajar yang diajar. Dan  Mahatma Gandhi sudah mencontohkan itu. Di era modern seperti ini, sangat sulit mempertahankan idealisme. Kamu harus berani melawan arus. Jika kamu gagal, maka kamu akan terbawa arus yang tak menentu dimana hilirnya.”

Ucapan kakek kali ini sangat saya mengerti. Benar, di zaman sekarang ini sudah banyak terpelajar yang menjadi pelacur intelektual, mereka saling hina, menyombongkan diri atau saling melarang satu sama lain. Dan, bukankah hal yang tidak boleh dilakukan mahluk hidup adalah melarang hak sesama mahluk hidup?  Rasa – rasa nya seperti itu. Tapi saya tidak bisa menghindar, seperti itulah wajar manusia abad duapuluh satu.

Tuesday, 21 January 2014

Air Asin Perjuangan

Dini hari akan tiba, pengharapan agar mereka pulang terus ada dan tidak akan punah
Bukan hanya keluarga, kita pun tidak akan lupa.
Dimana mereka sekarang? Dimana? Apa masih dengan pakaian usangnya?
Masihkah cahaya hilang memakan singkong rebus dengan teh tawar dipagi hari?
Atau tidak makan untuk selamanya? Tidak! kepastian itu belum jelas
Semua masih berharap, perjuangan masih diteruskan.
                Mengharapkan pemimpin? Dia hanya bisa berjanji untuk tidak ditepati
                Dimana lagi harus mengadu? Pusat sudah didatangi bertahun - tahun
                Dan sekarang dua wayang berebut ingin menjadi dalang.
                Wayang yang dahulu bersama sama bermain antagonis
                Dua wayang dengan kekuatan tim, kekuatan institusi.
                Sesungguhnya mereka tidak lebih baik dari tikus dalam sangkar.
Perjuangan akan terus berjalan tidak akan punah seperti keadilan
Keadilan yang mebusuk, busuk dengan bumbu yang ditaburi pemiliknya.
Senja dan kamis senantiasa menjadi sahabat untuk kesekian kali
Terus menemani perjuangan dengan air asin,
Air yang tidak akan pernah berhenti.
Apakah sang wayang melihat? Ya, tentu saja
Melihat dan tertawa dibelakang mimbar.
                 Sampai mereka terlena dengan mata terpejam
                 Terlena dan lupa bahwa kita terus mendekati mimbarnya.
                 Mendekat dan berteriak dengan suara sunyi fajar yang bergema
                 Dengan cekatan wayang itu menghindar, takut akan perlawanan
                 Berlari cepat dengan topeng kebesaran untuk mencari toleransi
                 Kita pun berkata “Tidak ada toreransi untuk pemainya, LAWAN!”.


Friday, 17 January 2014

Menatap Senja

             Sore itu keadaan kampung seperti biasanya. Masih banyak anak anak yang bermain dengan ria tidak ada sedikitpun raut sedih dari pancaran wajah mereka semua. Seakan melepas penat dari apa yang mereka lakukan selama seharian dan seperti biasanya pula hanya Pak Samudra yang terlihat sedih. Dalam keadaan senja seorang anak yang bermain mencoba untuk menghampiri pak samudra. Anak itu bernama Surya, Surya Cencana lah nama lengkapnya. Dalam keadaan ragu Surya memberanikan diri menghampiri Pak Samudra dengan terbatah batah Surya bertanya

   “Pak...Pak Samudra kenapa terlihat sedih?’’ tanya Surya dengan kepolosannya.

Pak Samudra melihat anak itu, tanpa memberikan jawaban dia hanya tersenyum kepada Surya dan berkata..
  
   “Pulanglah nak, senja sudah tiba dengan tangisan bisunya.”

Dalam keadaan hening Surya bergegas meninggalkan Pak Samudra dia lari, lari begitu cepat kearah rumah nya dengan diringi 9 pertanyaan besar dipikirannya.

                Malam itu tidak seperti biasanya untuk Surya, Dia masih memikirkan maksud dari perkataan Pak Samudra. Ini malam yang sangat aneh dan kegelisahanpun kunjung pergi.

     “Ya Tuhan kemana aku harus pergi dan bersembunyi dari pertanyaan ini? Kenapa harus seperti ini? Umur ku belum juga dewasa kenpa harus terpikirkan apa yang tidak aku pikir kan?” ujur Surya dalam hati.        

Perasaan ini amat lama dirasakan, Seperti karang yang perlahan menghilang karena terjangan ombak. Dalam keadaan gelisah Surya hanya bisa termenung di depan jendela kamarnya sekedar melihat cahaya rembulan. Nampak dari kejauhan terlihat mentigi dengan mentilai dibalik dedaunan nya. Mentilai cantik dengan warna kucing itu pun kini terlihat seperti merik. Dalam keadaan seperti ini tak ada yang bisa dilakukan bocah berumur 9 tahun. Ingin melakukan paheman pun dirasa tidak mungkin karena orang orang pasti tidak akan percaya dengan apa yang dia alami.  Surya hanya bisa terdiam dan tampa sepengetahuannya dia tertidur seperti habis menghisap pakpung.

          Pagi yang ditunggu akhirnya tiba, dalam keadaan paranoia Surya bersyukur bisa melewati malam terberatnya. Ya malam terberat terlewati kini dia menghadapi pagi yang aneh, pagi yang hangat tidak terasa dingin.
    
   “Tuhan sesungguhnya engkau maha paramarta! Ada apa Tuhan? Kenapa perasaan aneh ini datang kembali? Belum ada 2 menit aku menikmati pagi mu sudah kau buat aku seperti ini lagi. Adakah aku punya salah kepadamu? Ampuni aku, engkau paramarta sungguh maha paramarta.” ujarnya dalam hati sambil meremas rambut dengan ke dua tangannya.

Terlarut dalam keadaan tak menentu ibu pun menegurnya..

   “Nak, kamu kenapa? Kamu tidak terlihat seperti biasanya.” Tanya Ibu sambil menghampiri dan memeluk anaknya.
    Dalam pelukan Ibu Surya berkata “Aku merasakan hal aneh bu, pagi ini tidak seperti biasanya.”
   “Itu hanya perasaan kamu saja, lekaslah mandi kamu harus sekolah.” ujar Ibu sambil melepaskan pelukannya
    Sambil berdiri “Iya bu, terima kasih atas pelukannya.”

Dengan pertanyaan besar surya pun menjalani hari itu
   “Bu, surya berangkat sekolah dulu ya.” ujar surya sambil mencium tangan Ibu
   Sambil mengelus rambut putranya “Ya nak, hati hati dijalan.”

Sambil menatap mata Ibunya Surya seperti merasakan tangisan tampa air mata. Disepanjang jalan dia hanya bisa merasakan pertanyaan pertanyaan besar sang alam tanpa bisa menjawabnya. Dalam keadaan ragu ia terus berjalan melewati panteon. Surya sempat berhenti sejenak sekedar melihat nenek tua yang sedang berdoa dengan pedendang yang dilingkarkan di kedua bahunya. Tidak lama kemudian Surya kembali berjalan dan tak jauh dari panteon kini dia melihat pentopan yang masih ditutup rapat. Sesampai nya disekolah bel tanda masuk kelas langsung berbunyi Surya langsung berbegas menuju kelas nya, kelas 4b dan langsung mengambil tempat duduk dipojok kelas. Pagi itu terasa semakin aneh saat merah putih tidak ada di tempatnya, tempat yang paling tinggi dengan tiang bambu. Detik demi detik terlewati begitu lama, yang ada dipikirannya hanya ingim bertemu dengan Pak Samudra. Pada saat itu keadaan kelas seperti biasa teman teman nampak senang dengan suasana kelas. Pak Syukur mengajar pelajar Bahasa Indonesia dengan suasana yang menyenangkan. Surya tetap terlihat bingung. Ia linglung dengan keadaan nya. Sampai bel berbunyi kembali pertanda jam penggantian pelajaran ia tetap diam. Suasana kelas semakin ria pasalnya pelajaran selanjutnya ialah olah raga yang diajarkan oleh Pak Shukron. Dengan cepat teman temannya mengganti pakain mereka dengan pakaian olah raga. Menyadari hal itu Surya bergegas berdiri dan langsung menghampiri Pak Shukron yang berada didepan kelas untuk meminta izin agar tidak mengikuti pelajar dengan alasan sakit. Pak Shukron pun mengiakan permintaanrya. Setelah mendapatkan jawaban Surya kembali menuju tempat duduknya. Sampai bel istirahat berbunyipun dia tetap pada tempatnya. Melihat keadaan Surya yang tidak seperti biasanya teman perempuannya yang bernama Felicia Zee Noviana menegurnya
   “Surya kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Zee sambil mengambil tempat duduk disamping Surya.
   Surya terdiam sejenak “Aku sehat saja kok. Ada apa Zee?” menatap Zee
   Zee dengan raut wajah tersipu malu “Tapi kamu tidak terlihat seperti biasanya Sur.”
   “Ah.. itu hanya perasaan kamu saja.” Surya sambil tersenyum.
Untuk waktu beberapa lama mereka berdua diam sejenak dengan iringan suara renyai renyai, suara yang khas, dengan tetes demi tetes penuh dengan irama. Sekian lama berdiam Surya berusaha mencairkan  suasana
   Surya berdiri dan memegang tangan Zee “Mari kita makan dikantin.”
   Tanpa menjawab Zee langsung mengiyakan ajakan Surya dengan berdiri dan senyuman manis nya.

Sesampainya dikantin Surya mengantarkan Zee duduk di kursi dan meja yang sudah terlihat rengkah. Tidak lama kemudian Surya kembali datang dengan nasi goreng di kedua tangan nya. Zee terlihat lahap menyantap makanyanya sedangankan Surya hanya bisa melamun dengan sesekali menyuap makanan yang ada dihadapannya.

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi kembali mereka berdua langsung menuju kelas. Pelajaran selanjutnya adalah Agama Islam, Bu Fatimah yang mengajar sudah masuk kelas dan Surya pun langsung menuju keluar kelas. Ya Surya tidak mengikuti pelajaran Agama karena ia memang bukan Beragam Islam. Dia dilahirkan dari keluarga yang tidak mempunyai Agama, Semua keluarganya Atheist akan tetapi hanya Surya saja yang memperyai keberadaan Tuhan dan Dewa. Diluar kelas dia hanya duduk sambil memandangi lapangan sekolah dengan tatapan kosong. Sungguh aneh hari yang dialami olehnya. Dalam keadaan yang masih linglung dia menuju perpustakaan dan mengambil buku kumpulan cerpen berjudul Manusia Kamar karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam keadaan membaca dia terlihat lebih tenang seperti melupakan apa yang sedang dia alami. Ketika sedang asik membaca bel pertanda pergantian pelajaran berbunyi kembali. Dengan perasaan sebal ia meninggalkan perpustakaan. Sesampainya dikelas Pak Dido yang mengajar PPKN sudah masuk. Surya langsung menuju bangkunya. Pelajaran yang membosankan membuatnya ngantuk tanpa pikir panjang dia tertidur lelap dengan posisi duduk dengan kepala berada diatas meja dan kedua tangan menjadi alas. 40 menit kemudia bel berbunyi semua teman temannya sudah meninggalkan kelas tanpa sadar dia masih tertidur. Untunglah temannya Zee berbaik hati membangunkannya
   “Sur...Sur...Surya ayo bangun, sudah bel pulang Sur. Banguunnnn!!!!” menggoyangkan bahu Surya
   Dalam kondisi setengah sadar “Iya iya.”
   “Buruan bangun!” Zee sambil membentak
    Dalam keadaan kaget “Iya zee, makasih ya.”

Tanpa menghiraukan keberadaan Zee, Surya bergegas pulang dia lari, lari begitu cepat menuju rumahnya. Sedangkan zee? Dia hanya bisa diam melihat tingkah aneh yang dilakukan temannya itu.

               Siang itu menujukan jam 01:09. Panas terik sili berganti. Sambil menunggu jam 04:00 dimana dia bermain bersama teman temannya Surya hanya menonton televisi dangan kipas angin tepat didepan tubuhnya.
   “Makan dulu nak, Ibu sudah masak makanan kesukaan mu.” ujar Ibu
   Menuju meja makan “Iya bu, Ini surya mau makan, makasih bu atas masakannya.”

Tidak terasa waktu yang ditunggu sudag tiba. Dalam keadaan cemas Surya berlari menuju tanah lapang sambil berharap Pak Samudra tetap pada tempat biasanya. Sesampainya di lapangan dalam keadaan letih surya berkata
  
   “Syukurlah Pak Samudra ada ditempatnya.” ujuranya dalam hati.

Sadar Surya sudah sampai dilapang Pak Samudra menggubitnya, Dan tanpa pikir panjang Surya langsung menghampiri.

   “Selamat sore Pak.”  menyalami Pak Samudra
   Menyambut tangan Surya “Hei nak, Selamat senja.”

Dalam keadaan ragu dan bingung Surya duduk disamping Pak Samudra

   “Ada apa nak? Kamu terlihat gelisah.”  tersenyum menatap Surya.
   “Ya pak, sejak semalam perasaan saya tidak menentu. Saya merasa alam memberikan                    pertanyaanya.” mencoba tenang.
    Sambil menungangkan teh “Alam menyayangi kita semua. Tapi tidak semua dari kita tidak menyadari hal tersebut. Terlebih malah ada yang merusaknya nak.”
    Memberikan teh kepada Surya “Minumlah teh ini, barangkali bisa meredakan rasa gelisah mu.”
    Surya mengambil teh “Terima kasih Pak.”

   Tanpa ragu Surya langsung bertanya “Apa yang Bapak lakukan disini?”
    “Saya hanya ingin menikmati senja.” jawabnya sambil tersenyum.
    Keadaan bingung “Bagaimana caranya pak? Saya melihat matahari itu terbenam seperti biasanya.”
    “Pejamkanlah mata mu nak dan rasakan pertanda merduh yang diberikan.” Pak Samudra menatap Surya

Tanpa pikir panjang Surya melakukan apa yang disuruh Pak Samudra. Beberapa menit kemudian Surya mengatakan
   “Ini nikmat sekali pak. Saya merasakan apa yang belum pernah saya rasakan.”
   “Lalu apa yang kamu rasakan?” tanya Pak Samudra
   “Perasaan yang amat sedih pak, ingin sekali rasanya memeluk senja itu.” ungkapnya sambil menunduk dengan suara terbatah batah
   “Bukalah mata mu nak.”
   Dengan membuka mata  “Kenapa seperti ini pak? Lalu apa maksud perkataan Bapak tempo hari?”
   Pak Samudra dengan raut wajah sedih “Bersyukurlah nak kamu bisa merasakan tanda alam. Alam ini sudah terlalu sering menangis tapi tanpa pamrih alam selalu memberikan keindahan untuk manusia.”
   “Lalu apa yang harus saya lakukan pak?” Surya semakin penasaran
   “Tugas mu sekarang hanya belajar dan terus belajar sampai kamu mati dan rawatlah alam mu ini. Jagalah alam ini, Lawanlah mereka para kapitalis yang ingin mengahancurkan semuanya. Lawan!” Pak Samudra dengan tegas
   “Ya, saya berjanji akan hal itu pak. Terimakasih atas segala hal pelajaran yang bapak berikan.” Surya percaya diri

Menyadiri waktu semakin sore Surya pamit untuk segera pulang.

                Keesokan harimya Surya lebih merasa tenang, tidak ada lagi perasaan aneh atau gelisah yang menghampirinya. Malam yang dilewatipun terasa lebih nyaman. Kini dia pun bersekolah seperti biasanya. Tak ada keraguan untuk semua. Dia yakin semua akan berjalan baik, Ya berjalan dengan baik termaksud pertemanannya dengan Zee. Ya, Felicia Zee Noviana gadis kecil nan cantik bagai putri timur jawa.


                Surya Kencana, putra senja yang kini bisa merasakan semua hal pertanda yang diberikan alam dengan penuh harapan dia melakukannya. Ya dengan harapan, Bukankah tidak ada yang bisa melarang? Bahkan para Dewa pun tidak bisa melarang harapan manusia manapun dari jaman manapun atau dari abad berapapun. Yakin semua bisa saja terjadi bahkan seorang raja bisa menjadi budak dalam waktu satu detik.