Dini hari akan tiba, pengharapan agar mereka pulang terus ada dan tidak akan punah
Bukan hanya keluarga, kita pun
tidak akan lupa.
Dimana mereka sekarang? Dimana?
Apa masih dengan pakaian usangnya?
Masihkah cahaya hilang memakan
singkong rebus dengan teh tawar dipagi hari?
Atau tidak makan untuk
selamanya? Tidak! kepastian itu belum jelas
Semua masih berharap,
perjuangan masih diteruskan.
Mengharapkan pemimpin? Dia hanya bisa berjanji untuk
tidak ditepati
Dimana lagi harus mengadu? Pusat sudah didatangi
bertahun - tahun
Dan sekarang dua wayang berebut ingin menjadi dalang.
Wayang yang dahulu bersama sama bermain antagonis
Dua wayang dengan kekuatan tim, kekuatan institusi.
Sesungguhnya mereka tidak lebih baik dari tikus dalam
sangkar.
Perjuangan akan terus berjalan
tidak akan punah seperti keadilan
Keadilan yang mebusuk, busuk
dengan bumbu yang ditaburi pemiliknya.
Senja dan kamis senantiasa
menjadi sahabat untuk kesekian kali
Terus menemani perjuangan
dengan air asin,
Air yang tidak akan pernah
berhenti.
Apakah sang wayang melihat? Ya,
tentu saja
Melihat dan tertawa dibelakang
mimbar.
Sampai mereka
terlena dengan mata terpejam
Terlena dan
lupa bahwa kita terus mendekati mimbarnya.
Mendekat dan
berteriak dengan suara sunyi fajar yang bergema
Dengan cekatan wayang itu
menghindar, takut akan perlawanan
Berlari cepat
dengan topeng kebesaran untuk mencari toleransi
Kita pun
berkata “Tidak ada toreransi untuk pemainya, LAWAN!”.
No comments:
Post a Comment