Tuesday, 21 January 2014

Air Asin Perjuangan

Dini hari akan tiba, pengharapan agar mereka pulang terus ada dan tidak akan punah
Bukan hanya keluarga, kita pun tidak akan lupa.
Dimana mereka sekarang? Dimana? Apa masih dengan pakaian usangnya?
Masihkah cahaya hilang memakan singkong rebus dengan teh tawar dipagi hari?
Atau tidak makan untuk selamanya? Tidak! kepastian itu belum jelas
Semua masih berharap, perjuangan masih diteruskan.
                Mengharapkan pemimpin? Dia hanya bisa berjanji untuk tidak ditepati
                Dimana lagi harus mengadu? Pusat sudah didatangi bertahun - tahun
                Dan sekarang dua wayang berebut ingin menjadi dalang.
                Wayang yang dahulu bersama sama bermain antagonis
                Dua wayang dengan kekuatan tim, kekuatan institusi.
                Sesungguhnya mereka tidak lebih baik dari tikus dalam sangkar.
Perjuangan akan terus berjalan tidak akan punah seperti keadilan
Keadilan yang mebusuk, busuk dengan bumbu yang ditaburi pemiliknya.
Senja dan kamis senantiasa menjadi sahabat untuk kesekian kali
Terus menemani perjuangan dengan air asin,
Air yang tidak akan pernah berhenti.
Apakah sang wayang melihat? Ya, tentu saja
Melihat dan tertawa dibelakang mimbar.
                 Sampai mereka terlena dengan mata terpejam
                 Terlena dan lupa bahwa kita terus mendekati mimbarnya.
                 Mendekat dan berteriak dengan suara sunyi fajar yang bergema
                 Dengan cekatan wayang itu menghindar, takut akan perlawanan
                 Berlari cepat dengan topeng kebesaran untuk mencari toleransi
                 Kita pun berkata “Tidak ada toreransi untuk pemainya, LAWAN!”.


No comments:

Post a Comment