Friday, 17 January 2014

Menatap Senja

             Sore itu keadaan kampung seperti biasanya. Masih banyak anak anak yang bermain dengan ria tidak ada sedikitpun raut sedih dari pancaran wajah mereka semua. Seakan melepas penat dari apa yang mereka lakukan selama seharian dan seperti biasanya pula hanya Pak Samudra yang terlihat sedih. Dalam keadaan senja seorang anak yang bermain mencoba untuk menghampiri pak samudra. Anak itu bernama Surya, Surya Cencana lah nama lengkapnya. Dalam keadaan ragu Surya memberanikan diri menghampiri Pak Samudra dengan terbatah batah Surya bertanya

   “Pak...Pak Samudra kenapa terlihat sedih?’’ tanya Surya dengan kepolosannya.

Pak Samudra melihat anak itu, tanpa memberikan jawaban dia hanya tersenyum kepada Surya dan berkata..
  
   “Pulanglah nak, senja sudah tiba dengan tangisan bisunya.”

Dalam keadaan hening Surya bergegas meninggalkan Pak Samudra dia lari, lari begitu cepat kearah rumah nya dengan diringi 9 pertanyaan besar dipikirannya.

                Malam itu tidak seperti biasanya untuk Surya, Dia masih memikirkan maksud dari perkataan Pak Samudra. Ini malam yang sangat aneh dan kegelisahanpun kunjung pergi.

     “Ya Tuhan kemana aku harus pergi dan bersembunyi dari pertanyaan ini? Kenapa harus seperti ini? Umur ku belum juga dewasa kenpa harus terpikirkan apa yang tidak aku pikir kan?” ujur Surya dalam hati.        

Perasaan ini amat lama dirasakan, Seperti karang yang perlahan menghilang karena terjangan ombak. Dalam keadaan gelisah Surya hanya bisa termenung di depan jendela kamarnya sekedar melihat cahaya rembulan. Nampak dari kejauhan terlihat mentigi dengan mentilai dibalik dedaunan nya. Mentilai cantik dengan warna kucing itu pun kini terlihat seperti merik. Dalam keadaan seperti ini tak ada yang bisa dilakukan bocah berumur 9 tahun. Ingin melakukan paheman pun dirasa tidak mungkin karena orang orang pasti tidak akan percaya dengan apa yang dia alami.  Surya hanya bisa terdiam dan tampa sepengetahuannya dia tertidur seperti habis menghisap pakpung.

          Pagi yang ditunggu akhirnya tiba, dalam keadaan paranoia Surya bersyukur bisa melewati malam terberatnya. Ya malam terberat terlewati kini dia menghadapi pagi yang aneh, pagi yang hangat tidak terasa dingin.
    
   “Tuhan sesungguhnya engkau maha paramarta! Ada apa Tuhan? Kenapa perasaan aneh ini datang kembali? Belum ada 2 menit aku menikmati pagi mu sudah kau buat aku seperti ini lagi. Adakah aku punya salah kepadamu? Ampuni aku, engkau paramarta sungguh maha paramarta.” ujarnya dalam hati sambil meremas rambut dengan ke dua tangannya.

Terlarut dalam keadaan tak menentu ibu pun menegurnya..

   “Nak, kamu kenapa? Kamu tidak terlihat seperti biasanya.” Tanya Ibu sambil menghampiri dan memeluk anaknya.
    Dalam pelukan Ibu Surya berkata “Aku merasakan hal aneh bu, pagi ini tidak seperti biasanya.”
   “Itu hanya perasaan kamu saja, lekaslah mandi kamu harus sekolah.” ujar Ibu sambil melepaskan pelukannya
    Sambil berdiri “Iya bu, terima kasih atas pelukannya.”

Dengan pertanyaan besar surya pun menjalani hari itu
   “Bu, surya berangkat sekolah dulu ya.” ujar surya sambil mencium tangan Ibu
   Sambil mengelus rambut putranya “Ya nak, hati hati dijalan.”

Sambil menatap mata Ibunya Surya seperti merasakan tangisan tampa air mata. Disepanjang jalan dia hanya bisa merasakan pertanyaan pertanyaan besar sang alam tanpa bisa menjawabnya. Dalam keadaan ragu ia terus berjalan melewati panteon. Surya sempat berhenti sejenak sekedar melihat nenek tua yang sedang berdoa dengan pedendang yang dilingkarkan di kedua bahunya. Tidak lama kemudian Surya kembali berjalan dan tak jauh dari panteon kini dia melihat pentopan yang masih ditutup rapat. Sesampai nya disekolah bel tanda masuk kelas langsung berbunyi Surya langsung berbegas menuju kelas nya, kelas 4b dan langsung mengambil tempat duduk dipojok kelas. Pagi itu terasa semakin aneh saat merah putih tidak ada di tempatnya, tempat yang paling tinggi dengan tiang bambu. Detik demi detik terlewati begitu lama, yang ada dipikirannya hanya ingim bertemu dengan Pak Samudra. Pada saat itu keadaan kelas seperti biasa teman teman nampak senang dengan suasana kelas. Pak Syukur mengajar pelajar Bahasa Indonesia dengan suasana yang menyenangkan. Surya tetap terlihat bingung. Ia linglung dengan keadaan nya. Sampai bel berbunyi kembali pertanda jam penggantian pelajaran ia tetap diam. Suasana kelas semakin ria pasalnya pelajaran selanjutnya ialah olah raga yang diajarkan oleh Pak Shukron. Dengan cepat teman temannya mengganti pakain mereka dengan pakaian olah raga. Menyadari hal itu Surya bergegas berdiri dan langsung menghampiri Pak Shukron yang berada didepan kelas untuk meminta izin agar tidak mengikuti pelajar dengan alasan sakit. Pak Shukron pun mengiakan permintaanrya. Setelah mendapatkan jawaban Surya kembali menuju tempat duduknya. Sampai bel istirahat berbunyipun dia tetap pada tempatnya. Melihat keadaan Surya yang tidak seperti biasanya teman perempuannya yang bernama Felicia Zee Noviana menegurnya
   “Surya kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Zee sambil mengambil tempat duduk disamping Surya.
   Surya terdiam sejenak “Aku sehat saja kok. Ada apa Zee?” menatap Zee
   Zee dengan raut wajah tersipu malu “Tapi kamu tidak terlihat seperti biasanya Sur.”
   “Ah.. itu hanya perasaan kamu saja.” Surya sambil tersenyum.
Untuk waktu beberapa lama mereka berdua diam sejenak dengan iringan suara renyai renyai, suara yang khas, dengan tetes demi tetes penuh dengan irama. Sekian lama berdiam Surya berusaha mencairkan  suasana
   Surya berdiri dan memegang tangan Zee “Mari kita makan dikantin.”
   Tanpa menjawab Zee langsung mengiyakan ajakan Surya dengan berdiri dan senyuman manis nya.

Sesampainya dikantin Surya mengantarkan Zee duduk di kursi dan meja yang sudah terlihat rengkah. Tidak lama kemudian Surya kembali datang dengan nasi goreng di kedua tangan nya. Zee terlihat lahap menyantap makanyanya sedangankan Surya hanya bisa melamun dengan sesekali menyuap makanan yang ada dihadapannya.

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi kembali mereka berdua langsung menuju kelas. Pelajaran selanjutnya adalah Agama Islam, Bu Fatimah yang mengajar sudah masuk kelas dan Surya pun langsung menuju keluar kelas. Ya Surya tidak mengikuti pelajaran Agama karena ia memang bukan Beragam Islam. Dia dilahirkan dari keluarga yang tidak mempunyai Agama, Semua keluarganya Atheist akan tetapi hanya Surya saja yang memperyai keberadaan Tuhan dan Dewa. Diluar kelas dia hanya duduk sambil memandangi lapangan sekolah dengan tatapan kosong. Sungguh aneh hari yang dialami olehnya. Dalam keadaan yang masih linglung dia menuju perpustakaan dan mengambil buku kumpulan cerpen berjudul Manusia Kamar karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam keadaan membaca dia terlihat lebih tenang seperti melupakan apa yang sedang dia alami. Ketika sedang asik membaca bel pertanda pergantian pelajaran berbunyi kembali. Dengan perasaan sebal ia meninggalkan perpustakaan. Sesampainya dikelas Pak Dido yang mengajar PPKN sudah masuk. Surya langsung menuju bangkunya. Pelajaran yang membosankan membuatnya ngantuk tanpa pikir panjang dia tertidur lelap dengan posisi duduk dengan kepala berada diatas meja dan kedua tangan menjadi alas. 40 menit kemudia bel berbunyi semua teman temannya sudah meninggalkan kelas tanpa sadar dia masih tertidur. Untunglah temannya Zee berbaik hati membangunkannya
   “Sur...Sur...Surya ayo bangun, sudah bel pulang Sur. Banguunnnn!!!!” menggoyangkan bahu Surya
   Dalam kondisi setengah sadar “Iya iya.”
   “Buruan bangun!” Zee sambil membentak
    Dalam keadaan kaget “Iya zee, makasih ya.”

Tanpa menghiraukan keberadaan Zee, Surya bergegas pulang dia lari, lari begitu cepat menuju rumahnya. Sedangkan zee? Dia hanya bisa diam melihat tingkah aneh yang dilakukan temannya itu.

               Siang itu menujukan jam 01:09. Panas terik sili berganti. Sambil menunggu jam 04:00 dimana dia bermain bersama teman temannya Surya hanya menonton televisi dangan kipas angin tepat didepan tubuhnya.
   “Makan dulu nak, Ibu sudah masak makanan kesukaan mu.” ujar Ibu
   Menuju meja makan “Iya bu, Ini surya mau makan, makasih bu atas masakannya.”

Tidak terasa waktu yang ditunggu sudag tiba. Dalam keadaan cemas Surya berlari menuju tanah lapang sambil berharap Pak Samudra tetap pada tempat biasanya. Sesampainya di lapangan dalam keadaan letih surya berkata
  
   “Syukurlah Pak Samudra ada ditempatnya.” ujuranya dalam hati.

Sadar Surya sudah sampai dilapang Pak Samudra menggubitnya, Dan tanpa pikir panjang Surya langsung menghampiri.

   “Selamat sore Pak.”  menyalami Pak Samudra
   Menyambut tangan Surya “Hei nak, Selamat senja.”

Dalam keadaan ragu dan bingung Surya duduk disamping Pak Samudra

   “Ada apa nak? Kamu terlihat gelisah.”  tersenyum menatap Surya.
   “Ya pak, sejak semalam perasaan saya tidak menentu. Saya merasa alam memberikan                    pertanyaanya.” mencoba tenang.
    Sambil menungangkan teh “Alam menyayangi kita semua. Tapi tidak semua dari kita tidak menyadari hal tersebut. Terlebih malah ada yang merusaknya nak.”
    Memberikan teh kepada Surya “Minumlah teh ini, barangkali bisa meredakan rasa gelisah mu.”
    Surya mengambil teh “Terima kasih Pak.”

   Tanpa ragu Surya langsung bertanya “Apa yang Bapak lakukan disini?”
    “Saya hanya ingin menikmati senja.” jawabnya sambil tersenyum.
    Keadaan bingung “Bagaimana caranya pak? Saya melihat matahari itu terbenam seperti biasanya.”
    “Pejamkanlah mata mu nak dan rasakan pertanda merduh yang diberikan.” Pak Samudra menatap Surya

Tanpa pikir panjang Surya melakukan apa yang disuruh Pak Samudra. Beberapa menit kemudian Surya mengatakan
   “Ini nikmat sekali pak. Saya merasakan apa yang belum pernah saya rasakan.”
   “Lalu apa yang kamu rasakan?” tanya Pak Samudra
   “Perasaan yang amat sedih pak, ingin sekali rasanya memeluk senja itu.” ungkapnya sambil menunduk dengan suara terbatah batah
   “Bukalah mata mu nak.”
   Dengan membuka mata  “Kenapa seperti ini pak? Lalu apa maksud perkataan Bapak tempo hari?”
   Pak Samudra dengan raut wajah sedih “Bersyukurlah nak kamu bisa merasakan tanda alam. Alam ini sudah terlalu sering menangis tapi tanpa pamrih alam selalu memberikan keindahan untuk manusia.”
   “Lalu apa yang harus saya lakukan pak?” Surya semakin penasaran
   “Tugas mu sekarang hanya belajar dan terus belajar sampai kamu mati dan rawatlah alam mu ini. Jagalah alam ini, Lawanlah mereka para kapitalis yang ingin mengahancurkan semuanya. Lawan!” Pak Samudra dengan tegas
   “Ya, saya berjanji akan hal itu pak. Terimakasih atas segala hal pelajaran yang bapak berikan.” Surya percaya diri

Menyadiri waktu semakin sore Surya pamit untuk segera pulang.

                Keesokan harimya Surya lebih merasa tenang, tidak ada lagi perasaan aneh atau gelisah yang menghampirinya. Malam yang dilewatipun terasa lebih nyaman. Kini dia pun bersekolah seperti biasanya. Tak ada keraguan untuk semua. Dia yakin semua akan berjalan baik, Ya berjalan dengan baik termaksud pertemanannya dengan Zee. Ya, Felicia Zee Noviana gadis kecil nan cantik bagai putri timur jawa.


                Surya Kencana, putra senja yang kini bisa merasakan semua hal pertanda yang diberikan alam dengan penuh harapan dia melakukannya. Ya dengan harapan, Bukankah tidak ada yang bisa melarang? Bahkan para Dewa pun tidak bisa melarang harapan manusia manapun dari jaman manapun atau dari abad berapapun. Yakin semua bisa saja terjadi bahkan seorang raja bisa menjadi budak dalam waktu satu detik.

No comments:

Post a Comment