Di hari senin dimana manusia sudah sibuk
dengan keduniawiannya. Sibuk dengan apa yang dianggap penting, ya.. penting
untuk mereka belum tentu penting untuk dia, ya dia dengan mahkota panjangnya.
Pada saat itu hari sudah mendekati senja
tak terasa mereka datang pada saat yang tepat untuk memberikan ketenangan
bagiku. Tanpa perintah otak bergegaslah tubuh ini menuju halte kumuh yang kira
kira berukuran 3x1 meter dengan kursi panjangnya yang sudah reot. Suasanya ini
membuat aku nerenung, mereka dengan ketenangannya, mereka dengan ke
lembutannnya bisa jadi diangap penghalang sebagian manusia. Aku tidak mengerti
kenapa harus demikian, bagiku mereka hanya belum bisa merasakan pesan yang
disampaikan. terlihat egois? ya, itulah aku. Manusia yang penuh dengan dosa
hanya mimpi mimpi yang menjadi hiasan dalam hidupnya. Ketenangan yang aku rasa
terus berlanjut, perasaan ini seperti asap yang keluar dari cerobong untuk
merasakan kebebasan dan melihat ke semua mata angin. Tidak akan ku lewat kan
waktu ini barang sedetikpun, sungguh luar biasa lama aku tak merasakannya,
suara yang khas dan bau yang meresap kedalam hidungku.
Di waktu yang sedang ku nikmati ini
muncul lah seorang pengganggu, sosok perempuan
tidak cantik hanya saja menawan mata. Mahkota panjangnya terlihat rapih
seperti putri di negeri dongeng. Tak berani aku menyapanya, sulit, gugup sampai
dia yang menyapa ku terlebih dahulu...
"Lagi neduh juga ya?" tanya perempuan itu sambil membetulkan
mahkotanya.
"Tidak, aku sedang menikmati pesan ketenangannya." jawab ku
dengan acuh, aku rasa dia termaksud yang mengaggap mereka adalah penghalang.
"Memang bisa?" tanya nya lagi sambil duduk di sebelah ku.
"Ya...tentu saja bisa." jawab ku masih acuh.
"Ada yang salah dengan aku? kamu selalu dingin menjawab pertanyaan
ku." jawpabnya dengan mata tajam.
‘Waduh dia sudah mulai merasakan singgungan halus dari ucapan ku, barang
kali karena dia perempuan jadi lebih cepat merasakannya. Mungkin ada benarnya
juga apa yang di ucapan kan ibu ku sewaktu aku masih kelas 6 sd. ibu ku bilang,
perempuan itu perasa, oleh karena itu kamu harus menjaga perasan nya’ ujah ku
dalam hati.
“Nama kamu siapa?” kembali aku bertanya untuk menghilangkan kecurigaan.
“Nama aku Cleo Maryam, siapa nama mu?” sambil mengulurkan tangan.
Aku sambut tanganya. “nama ku Fira, Fira Surya Aurora lengkapnya.”
Dengan raut muka yang bingung seakan tidak percaya dengan nama ku dia
mulai bertanya kembali.
“Fira Surya Aurora? Terdengar seperti nama perempuan dan hanya Surya
saja yg seperti nama laki laki,
sungguh aneh nama kamu.”
“Ya, kamu benar. Kamu bukan orang pertama yang berkata seperti itu”
jawab ku sambil melepaskan tangannya.
“Lalu kenapa Fira?”
Dia semakin terheran heran, mata bulat nya memantulkan sinar sinar lampu
lampu kendaraan yang lalu lalang. Tuhan peri mana lagi yang telah engkau
ciptakan ini?
Sambil memakaikan jaket ku kepadanya, aku menjawab
“Aku pun pernah protes dengan nama itu tapi ketika ibu ku memberikan alasannya
barulah aku menerima nya dengan ikhlas”
“Apa alasannya? Boleh enggak aku tau?”
Dengan tersenyum Cleo mulai bertanya lagi, seperti senyuman palsu agar
aku memberi tahu alasannya. Tidak
tidak itu bukan senyuman palsu! Itu senyuman ikhlas dari seorang perempuan
menawan mata, senyuman yang aku anggap ucapan terima kasih dari pinjaman jaket
ku.
“Ibu ku bilang nama Fira berasal dari kata
firasat, Surya itu berarti matahari sedangkan Aurora itu keajaiban alam yang
sering terjadi di alaska, kanada, finlandia, norwegia dan islandia.”
“Suasanya sudah mulai mencair, tak terasa lama sudah aku berbincang
dengan nya sampai aku lupa dengan tujuan awal ku, yaa tujuan untuk menikmati
pesan dari ketenangan. Sial dia memang pengganggu.” Ujur ku dalam hati
Dalam keadaan bersalah kepada
diri sendiri, suara manja itu datang kembali menghampiri pikiran ku.
“Maaf kan aku, aku sudah mengganggu ketanangan mu. Sunggu tidak
bermaksud demikian, aku hanya ingin mengenal mu dan terima kasih atas jaketnya
ini aku kembalikan.” sambil berdiri dan memberikan jaket nya dia menjawab dengan
lesuh.
Tuhan kenapa seperti ini? Aku merasa
bersalah kepada diriku dan dia. Sungguh ucapan itu membuat ku terdiam cukup
lama, sampai aku sadar dia ingin berbegas untuk pergi.
Sambil berdiri dan memegang
tanganya dari belakang akupun berkata
“Tidak, kamu tidak bersalah. Kamu seperti hiasan bunga tulip dalam
ketenangan ku.”
Mendengarkan perkataan itu dia
seperti terkaget dan langsung menoleh ke hadapan ku mata tajamnya tepat jatuh
dimata ku yang redup. sial betul diriku ini sepertinya dia marah dengan ucapan
ku tadi.
“Terimakasih, pujian mu melengkapi ketenangan dalam ke khawatiranku.”
ucap nya sambil memegang tangan ku untuk dilepaskan dari tangannya
Tak ku sangka seperti terlalu
berat apa yang dia khawatirkan, pertanyaan pertanyaan muncul kembali namun
urung ku tanyakan. Ini seperti perasaan maha hujan yang turun tepat di ufuk
selat ku. Oh God! Perepuan itu sungguh membuat perasaan ini semakin bingung dan
tak menentu. Tampa sepengetahuan ku Cleo Maryam pun hilang seakan ditelan
keindahan senja selepas hujan.
No comments:
Post a Comment