Wednesday, 15 January 2014

Gerombong Penenang


     Di hari senin dimana manusia sudah sibuk dengan keduniawiannya. Sibuk dengan apa yang dianggap penting, ya.. penting untuk mereka belum tentu penting untuk dia, ya dia dengan mahkota panjangnya.
    Pada saat itu hari sudah mendekati senja tak terasa mereka datang pada saat yang tepat untuk memberikan ketenangan bagiku. Tanpa perintah otak bergegaslah tubuh ini menuju halte kumuh yang kira kira berukuran 3x1 meter dengan kursi panjangnya yang sudah reot. Suasanya ini membuat aku nerenung, mereka dengan ketenangannya, mereka dengan ke lembutannnya bisa jadi diangap penghalang sebagian manusia. Aku tidak mengerti kenapa harus demikian, bagiku mereka hanya belum bisa merasakan pesan yang disampaikan. terlihat egois? ya, itulah aku. Manusia yang penuh dengan dosa hanya mimpi mimpi yang menjadi hiasan dalam hidupnya. Ketenangan yang aku rasa terus berlanjut, perasaan ini seperti asap yang keluar dari cerobong untuk merasakan kebebasan dan melihat ke semua mata angin. Tidak akan ku lewat kan waktu ini barang sedetikpun, sungguh luar biasa lama aku tak merasakannya, suara yang khas dan bau yang meresap kedalam hidungku.
      Di waktu yang sedang ku nikmati ini muncul lah seorang pengganggu, sosok perempuan  tidak cantik hanya saja menawan mata. Mahkota panjangnya terlihat rapih seperti putri di negeri dongeng. Tak berani aku menyapanya, sulit, gugup sampai dia yang menyapa ku terlebih dahulu...
   "Lagi neduh juga ya?" tanya perempuan itu sambil membetulkan mahkotanya.
  "Tidak, aku sedang menikmati pesan ketenangannya." jawab ku dengan acuh, aku rasa dia termaksud yang mengaggap mereka adalah penghalang.
   "Memang bisa?" tanya nya lagi sambil duduk di sebelah ku.
   "Ya...tentu saja bisa." jawab ku masih acuh.
   "Ada yang salah dengan aku? kamu selalu dingin menjawab pertanyaan ku." jawpabnya dengan mata tajam.

   ‘Waduh dia sudah mulai merasakan singgungan halus dari ucapan ku, barang kali karena dia perempuan jadi lebih cepat merasakannya. Mungkin ada benarnya juga apa yang di ucapan kan ibu ku sewaktu aku masih kelas 6 sd. ibu ku bilang, perempuan itu perasa, oleh karena itu kamu harus menjaga perasan nya’ ujah ku dalam hati.
   “Nama kamu siapa?” kembali aku bertanya untuk menghilangkan kecurigaan.
   “Nama aku Cleo Maryam, siapa nama mu?” sambil mengulurkan tangan.
   Aku sambut tanganya. “nama ku Fira, Fira Surya Aurora lengkapnya.”
  Dengan raut muka yang bingung seakan tidak percaya dengan nama ku dia mulai bertanya kembali.
   “Fira Surya Aurora? Terdengar seperti nama perempuan dan hanya Surya saja yg seperti nama laki            laki, sungguh aneh nama kamu.”
   “Ya, kamu benar. Kamu bukan orang pertama yang berkata seperti itu” jawab ku sambil melepaskan tangannya.
   “Lalu kenapa Fira?”
   Dia semakin terheran heran, mata bulat nya memantulkan sinar sinar lampu lampu kendaraan yang lalu lalang. Tuhan peri mana lagi yang telah engkau ciptakan ini?
   Sambil memakaikan jaket ku kepadanya, aku menjawab
   “Aku pun pernah protes dengan nama itu tapi ketika ibu ku memberikan alasannya barulah aku menerima nya dengan ikhlas”
    “Apa alasannya? Boleh enggak aku tau?”
   Dengan tersenyum Cleo mulai bertanya lagi, seperti senyuman palsu agar aku memberi tahu          alasannya. Tidak tidak itu bukan senyuman palsu! Itu senyuman ikhlas dari seorang perempuan menawan mata, senyuman yang aku anggap ucapan terima kasih dari pinjaman jaket ku.
    “Ibu ku bilang nama Fira berasal dari kata firasat, Surya itu berarti matahari sedangkan Aurora itu keajaiban alam yang sering terjadi di alaska, kanada, finlandia, norwegia dan islandia.”
   “Suasanya sudah mulai mencair, tak terasa lama sudah aku berbincang dengan nya sampai aku lupa dengan tujuan awal ku, yaa tujuan untuk menikmati pesan dari ketenangan. Sial dia memang pengganggu.” Ujur ku dalam hati
Dalam keadaan bersalah kepada diri sendiri, suara manja itu datang kembali menghampiri pikiran ku.
   “Maaf kan aku, aku sudah mengganggu ketanangan mu. Sunggu tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin mengenal mu dan terima kasih atas jaketnya ini aku kembalikan.” sambil berdiri dan memberikan jaket nya dia menjawab dengan lesuh.
Tuhan kenapa seperti ini? Aku merasa bersalah kepada diriku dan dia. Sungguh ucapan itu membuat ku terdiam cukup lama, sampai aku sadar dia ingin berbegas untuk pergi.
Sambil berdiri dan memegang tanganya dari belakang akupun berkata
   “Tidak, kamu tidak bersalah. Kamu seperti hiasan bunga tulip dalam ketenangan ku.”
Mendengarkan perkataan itu dia seperti terkaget dan langsung menoleh ke hadapan ku mata tajamnya tepat jatuh dimata ku yang redup. sial betul diriku ini sepertinya dia marah dengan ucapan ku tadi.
   “Terimakasih, pujian mu melengkapi ketenangan dalam ke khawatiranku.” ucap nya sambil memegang tangan ku untuk dilepaskan  dari tangannya

Tak ku sangka seperti terlalu berat apa yang dia khawatirkan, pertanyaan pertanyaan muncul kembali namun urung ku tanyakan. Ini seperti perasaan maha hujan yang turun tepat di ufuk selat ku. Oh God! Perepuan itu sungguh membuat perasaan ini semakin bingung dan tak menentu. Tampa sepengetahuan ku Cleo Maryam pun hilang seakan ditelan keindahan senja selepas hujan.

No comments:

Post a Comment