Memasuki abad duapuluh satu; dunia
semakin terlihat panik. Manusia semakin dimanjakan oleh teknologi. Semua saling
berlomba tanpa memperdulikan cara apa yang mereka pakai. Dan masih kah mereka
membutuhkan Tuhan? Atau datang sekedar untuk mengadu saja? Manusia abad
duapuluh satu; manusia manja.
Perkenalkan, Saya Max Tan Lee
umur enambelas tahun. Saya terbiasa dipanggil Tan atau Lee. Saya lahir dan
tumbuh besar di pesisir pantai, daerah kecil yang bernama Iwon, Korea Utara. Saya
tinggal bersama kakek sejak kecil. Kakek
saya bernama Multian Tan Lee, dia berusia enampuluh empat tahun. Saat ini saya
bekerja sebagai nelayan. Sejak lulus sekolah dasar, pertualangan didalam
pendidikan sekolah terhenti. Tidak jelas apa alasannya, mungkin karena masalah
biaya. Entahlah. Walaupun begitu, saya masih bersyukur karena kakek selalu mengajarkan
banyak hal; termaksud sejarah didalamnya. Kakek selalu bilang, kalau tidak ada
satupun Negara yang berani dengan Korea Utara, termaksud Amerika Serikat; Negara
yang selalu sibuk dengan kebohongannya.
Pagi kali ini tidak begitu
cerah. Dan sepertinya laut sedang tidak bersahabat juga. Saya urungankan niat
untuk melaut. Disaat – saat inilah kakek selalu bercerita. Saya duduk persis
didepan pintu. Sejenak, tubuh ini terdiam. Saya merasa ada yang aneh, seakan –
akan telah terjadi peristiwa besar. Tidak lama kemudian kakek datang menghampiri,
tubuhnya terlihat segar setelah mandi.
“Selamat pagi lee. Kamu tidak
melaut?” Tanya kakek.
“Tidak kek, laut sedang tidak
bersahabat.” Jawab ku dengan santai.
“Alam selalu bersahabat dengan
manusia lee, hanya saja sedikit manusia yang bisa merasakan itu.” Jawab kakek
sambil tersenyum
Sejenak saya terdiam, merenungankan apa yang kakek
bilang tadi. Sepertinya benar, Alam selalu bersahabat dengan manusia. Inikah cerminan
manusia abad duapuluh satu? Huh… membingungkan.
Tanpa saya sadari kakek sudah
duduk tepat disamping saya. Ditangannya terlihat buku Carried Away: A Selection
of Stories, buku cerita pendek karya Alice Munro. Ketika suasana sunyi secepat
kilat kakek bertanya.
“Lee, tau kamu siapa Alice
Munro itu?”
“Aku tidak tau banyak tentang
dia, yang aku tau dia penulis asal Kanada kek.” Jawab saya ragu.
“Ya kamu benar, dia memang
penulis asal Kanada. Tapi bukan itu maksud kakek”
“Lalu apa makasud pertanyaan
kakek?” Tanya saya bingung.
“Di usia yang sudah menginjak
delapanpuluhan, dia masih saja mendapatkan penghargaan Nobel. Tentu itu karena
dia menulis dengan hati, bukan dengan tangannya.” Jawab kakek dengan tenang.
“Jujur, Lee tidak mengerti
maksud kakek. Maafkan.” Jawab saya dengan nada rendah
“Kamu akan mengerti, ketika
kamu menulis lee. Menulis adalah pekerjaan untuk manusia. Kamu harus paham
untuk itu.”
Saya masih bingung apa yang
dimaksud kakek, mungkin karena saya hanya lulusan sekolah dasar, sedangkan
kakek seorang terpelajar. Huh, sial benar nasib ini.
Semua berakhir begitu saja,
saya tinggalkan kakek di teras rumah untuk pergi ke pasar sekedar berbelanja
bahan makanan. Keadaan dijalan seperti biasa, orang – orang sibuk dengan urusan
mereka masing – masing. Terpikirkan kah oleh mereka tentang alam? Atau mereka
hanya memikirkan perut saja? Biarkan itu menjadi urusan tersendiri.
Pada saat saya sampai rumah
sekitar jam sebelas, kakek masih sibuk dengan buku Alice Munro nya. Terpikir untuk
menugur tapi enggan rasanya untuk menggangu. Dalam hati saya hanya bisa
mengeluh…
“Kakek kalau sudah baca lupa
dengan semuanya, cucunya lewatpun rasanya dia tidak tau.”
Selesai menaru belanjaan
didapur, saya bergegas menuju kamar. Tidak enak rasanya jika tidak melaut., Tidak
ada pekerjaan yang harus dilakukan. Sunyi.
Tanpa sadar tubuh ini
terlelap, tepat jam empat sore kakek membangunkan saya dan langsung meminta
saya untuk lekas mandi. Sambil membangunkan dari tidur, terlihat kakek sedang
menempelkan poster seorang laki – laki. Saya bergegas menuju kamar mandi, dikamar
mandi terpikirkan poster laki – laki itu, saya merasa pernah melihat gambar dia
disalah satu koran. Terbesit nama Noam Chomsky. Entahlah, saya ragu. Tapi apabila
benar, untuk apa kakek memasang poster seorang professor linguistic yang pernah
mendapatkan penghargaan Kyoto Prize. Ah… biar nanti saya tanya saja kepada
kakek.
Ketika sudah selesai mandi
saya bergegas untuk menghampiri kakek dihalaman belakang rumah. Disana terlihat
kakek sedang asik minum teh sambil mendengarkan kicauan burung peliharaannya. Dengan
ragu saya duduk disamping kakek dan memulai percakapan.
“Kek, poster yang kakek
tempelkan tadi itu Noam Chomsky bukan?” Tanya saya dalam keadaan ragu.
Kakek tersenyum
“Benar Lee, itu Noam Chomsky. Memang
kenapa?” balik kakek bertanya.
Masih dalam keadaan ragu saya
menjawab
“Untuk apa Kakek menempelkan
gambar dia?”
Kakek tidak menjawab
pertanyaan saya, dia malah asik dengan kicauan – kicauan burungnya. Tubuh ini
menjadi linglung. Tak tau harus berbuat apa. Sadar akan keadaan yang seperti
ini, kakek mulai berbicara.
“Lee, untuk menjadi terpelajar
tidak harus duduk manis mendengarkan guru berbicara di depan kelas. Kamu cukup
membaca dan membaca. Ya, kakek sadar apa yang kakek bicarakan memang terdengar naïf.
Kamu juga harus tau, menjadi terpelajar itu sulit. Jika kamu ingin menjadi
terpelajar, jadilah terpelajar yang diajar. Dan Mahatma Gandhi sudah mencontohkan itu. Di era
modern seperti ini, sangat sulit mempertahankan idealisme. Kamu harus berani
melawan arus. Jika kamu gagal, maka kamu akan terbawa arus yang tak menentu
dimana hilirnya.”
Ucapan kakek kali ini sangat
saya mengerti. Benar, di zaman sekarang ini sudah banyak terpelajar yang menjadi
pelacur intelektual, mereka saling hina, menyombongkan diri atau saling
melarang satu sama lain. Dan, bukankah hal yang tidak boleh dilakukan mahluk
hidup adalah melarang hak sesama mahluk hidup? Rasa – rasa nya seperti itu. Tapi saya tidak bisa
menghindar, seperti itulah wajar manusia abad duapuluh satu.