Friday, 18 July 2014

Wajah Manusia

      Memasuki abad duapuluh satu; dunia semakin terlihat panik. Manusia semakin dimanjakan oleh teknologi. Semua saling berlomba tanpa memperdulikan cara apa yang mereka pakai. Dan masih kah mereka membutuhkan Tuhan? Atau datang sekedar untuk mengadu saja? Manusia abad duapuluh satu; manusia manja.

          Perkenalkan, Saya Max Tan Lee umur enambelas tahun. Saya terbiasa dipanggil Tan atau Lee. Saya lahir dan tumbuh besar di pesisir pantai, daerah kecil yang bernama Iwon, Korea Utara. Saya tinggal bersama kakek sejak kecil.  Kakek saya bernama Multian Tan Lee, dia berusia enampuluh empat tahun. Saat ini saya bekerja sebagai nelayan. Sejak lulus sekolah dasar, pertualangan didalam pendidikan sekolah terhenti. Tidak jelas apa alasannya, mungkin karena masalah biaya. Entahlah. Walaupun begitu, saya masih bersyukur karena kakek selalu mengajarkan banyak hal; termaksud sejarah didalamnya. Kakek selalu bilang, kalau tidak ada satupun Negara yang berani dengan Korea Utara, termaksud Amerika Serikat; Negara yang selalu sibuk dengan kebohongannya.

          Pagi kali ini tidak begitu cerah. Dan sepertinya laut sedang tidak bersahabat juga. Saya urungankan niat untuk melaut. Disaat – saat inilah kakek selalu bercerita. Saya duduk persis didepan pintu. Sejenak, tubuh ini terdiam. Saya merasa ada yang aneh, seakan – akan telah terjadi peristiwa besar.   Tidak lama kemudian kakek datang menghampiri, tubuhnya terlihat segar setelah mandi.

“Selamat pagi lee. Kamu tidak melaut?” Tanya kakek.
“Tidak kek, laut sedang tidak bersahabat.” Jawab ku dengan santai.
“Alam selalu bersahabat dengan manusia lee, hanya saja sedikit manusia yang bisa merasakan itu.” Jawab kakek sambil tersenyum

Sejenak  saya terdiam, merenungankan apa yang kakek bilang tadi. Sepertinya benar, Alam selalu bersahabat dengan manusia. Inikah cerminan manusia abad duapuluh satu? Huh… membingungkan.

          Tanpa saya sadari kakek sudah duduk tepat disamping saya. Ditangannya terlihat buku Carried Away: A Selection of Stories, buku cerita pendek karya Alice Munro. Ketika suasana sunyi secepat kilat kakek bertanya.

“Lee, tau kamu siapa Alice Munro itu?”
“Aku tidak tau banyak tentang dia, yang aku tau dia penulis asal Kanada kek.” Jawab saya ragu.
“Ya kamu benar, dia memang penulis asal Kanada. Tapi bukan itu maksud kakek”
“Lalu apa makasud pertanyaan kakek?” Tanya saya bingung.
“Di usia yang sudah menginjak delapanpuluhan, dia masih saja mendapatkan penghargaan Nobel. Tentu itu karena dia menulis dengan hati, bukan dengan tangannya.” Jawab kakek dengan tenang.
“Jujur, Lee tidak mengerti maksud kakek. Maafkan.” Jawab saya dengan nada rendah
“Kamu akan mengerti, ketika kamu menulis lee. Menulis adalah pekerjaan untuk manusia. Kamu harus paham untuk itu.”

Saya masih bingung apa yang dimaksud kakek, mungkin karena saya hanya lulusan sekolah dasar, sedangkan kakek seorang terpelajar. Huh, sial benar nasib ini.

            Semua berakhir begitu saja, saya tinggalkan kakek di teras rumah untuk pergi ke pasar sekedar berbelanja bahan makanan. Keadaan dijalan seperti biasa, orang – orang sibuk dengan urusan mereka masing – masing. Terpikirkan kah oleh mereka tentang alam? Atau mereka hanya memikirkan perut saja? Biarkan itu menjadi urusan tersendiri.

             Pada saat saya sampai rumah sekitar jam sebelas, kakek masih sibuk dengan buku Alice Munro nya. Terpikir untuk menugur tapi enggan rasanya untuk menggangu. Dalam hati saya hanya bisa mengeluh…

“Kakek kalau sudah baca lupa dengan semuanya, cucunya lewatpun rasanya dia tidak tau.”

Selesai menaru belanjaan didapur, saya bergegas menuju kamar. Tidak enak rasanya jika tidak melaut., Tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Sunyi.

           Tanpa sadar tubuh ini terlelap, tepat jam empat sore kakek membangunkan saya dan langsung meminta saya untuk lekas mandi. Sambil membangunkan dari tidur, terlihat kakek sedang menempelkan poster seorang laki – laki. Saya bergegas menuju kamar mandi, dikamar mandi terpikirkan poster laki – laki itu, saya merasa pernah melihat gambar dia disalah satu koran. Terbesit nama Noam Chomsky. Entahlah, saya ragu. Tapi apabila benar, untuk apa kakek memasang poster seorang professor linguistic yang pernah mendapatkan penghargaan Kyoto Prize. Ah… biar nanti saya tanya saja kepada kakek.

           Ketika sudah selesai mandi saya bergegas untuk menghampiri kakek dihalaman belakang rumah. Disana terlihat kakek sedang asik minum teh sambil mendengarkan kicauan burung peliharaannya. Dengan ragu saya duduk disamping kakek dan memulai percakapan.

“Kek, poster yang kakek tempelkan tadi itu Noam Chomsky bukan?” Tanya saya dalam keadaan ragu.
Kakek tersenyum
“Benar Lee, itu Noam Chomsky. Memang kenapa?” balik kakek bertanya.
Masih dalam keadaan ragu saya menjawab
“Untuk apa Kakek menempelkan gambar dia?”

Kakek tidak menjawab pertanyaan saya, dia malah asik dengan kicauan – kicauan burungnya. Tubuh ini menjadi linglung. Tak tau harus berbuat apa. Sadar akan keadaan yang seperti ini, kakek mulai berbicara.

“Lee, untuk menjadi terpelajar tidak harus duduk manis mendengarkan guru berbicara di depan kelas. Kamu cukup membaca dan membaca. Ya, kakek sadar apa yang kakek bicarakan memang terdengar naïf. Kamu juga harus tau, menjadi terpelajar itu sulit. Jika kamu ingin menjadi terpelajar, jadilah terpelajar yang diajar. Dan  Mahatma Gandhi sudah mencontohkan itu. Di era modern seperti ini, sangat sulit mempertahankan idealisme. Kamu harus berani melawan arus. Jika kamu gagal, maka kamu akan terbawa arus yang tak menentu dimana hilirnya.”

Ucapan kakek kali ini sangat saya mengerti. Benar, di zaman sekarang ini sudah banyak terpelajar yang menjadi pelacur intelektual, mereka saling hina, menyombongkan diri atau saling melarang satu sama lain. Dan, bukankah hal yang tidak boleh dilakukan mahluk hidup adalah melarang hak sesama mahluk hidup?  Rasa – rasa nya seperti itu. Tapi saya tidak bisa menghindar, seperti itulah wajar manusia abad duapuluh satu.

No comments:

Post a Comment